Limapuluh KotaSumatera Barat

Pohon Tumbang Penyebab Air Sungai Meluap, Padi Menguning Tiarap

×

Pohon Tumbang Penyebab Air Sungai Meluap, Padi Menguning Tiarap

Sebarkan artikel ini
Begini kondisi sungai Batang Sandir yang dihambat kayu tumbang.

LIMAPULUH KOTA, marapipost.com-Meluapnya air sungai Batang Sandir yang terdapat di nagari Tungkar kecamatan Limo Nagari Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar, salah satu penyebabnya adanya pohon kayu besar tumbang di pinggir sungai persis membelintang  anak sungai itu.

Sehingga air cepat meluap dan mengenang8 sawah Masyarakat yang 0adinya ada yang sedang menguning menunggu di panen saja lagi.

Untuk mengatasi pohon Tumbang itu, tidak mampu hanya dengan gotong royong (Goro) masyarakat saja, bantuan peralatan, Pemkab Limapuluh Kota menurunkan bantuan tenaga dari BPBD, TNI, Polri dan aparatur sipil dikecamatan itu, Minggu (17/5/2026).

Pohon-pohon kayu ini tumbang akibat curah hujan yang berkepanjangan beberapa hari ditambah tiupan angin kencang (13/5-2026. Sampai, Jumat (15/5/2026), debit air sungai yang disebut penduduk sebagai Batang Aia Pondam ini, masih tinggi, deras dan berwarna cokelat.

Penjabat Wali Nagari Tungkar, Syafriwan menyebut, sungai Batang Sandir yang meluap, memutus pipa Pamsimas yang mengalir untuk ratusan rumah penduduk. Selain merusak lubuk ikan larangan Pokmawas Pondam, dan merendam areal persawahan masyarakat  termasuk, merendam padi yang siap untuk dipanen.

Dua petani yang sawah garapannya dirusak luapan Batang Sandir, Efa dan Yusni Ancok, sangat berharap bantuan dari pemerintah. “Seminggu lagi, padi di sawah kami mau dipanen. Tapi mau bilang apa. Datang banjir. Habis semua,” kata Efa dan Jusni Ancok.

Selain Batang Sandiri yang meluap, hujan deras Rabu malam lalu, juga mengakibatkan bencana di tiga jorong di Nagari Tungkar. Yakni, jorong Taratak, Jorong Sialang, dan Jorong Dalam Nagari.  Akibat bencana ini, ada jalan kabupaten yang terban, jalan pertanian yang ditimbun longsor, dan rumah penduduk yang halamanya amblas.

Sekda Kabupaten  Herman Azmar menyebut,  Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, sudah  menetapkan status tanggap darurat bencana di daerah tersebut. Penetapan itu berlaku sejak 13 hingga 26 Mei 2023 atau selama 14 hari kalender, untuk penanganan bencana yang cepat dan terukur.

“Bersama Forkopimda, Pemkab Limapuluh Kota menetapkan tanggap darurat bencana selama 14 hari kerja”, ujar Herman Azmar.

Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang membidangi kebencanaan dan infrastruktur umum, mengapresiasi dan mendukung penuh penetapan status tanggap darurat bencana oleh pemerintah daerah. Karena, menurut Fajar Rillah Vesky, bencana hidrometerologi yang terjadi di berbagai nagari, memang telah mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, serta memerlukan tindakan segera dan memadai.

“Dari awal, kita dukung penetapan status tanggap darurat ini, untuk melegalisasi pengunaan dana BTT (Biaya Tak Terduga) sebesar Rp2,5 miliar yang terdapat dalam pos belanja APBD 2026. Sekaligus untuk memobilisasi bantuan dari banyak pihak. Kemudian, dengan adanya penetapan status tanggap darurat ini, tentu petugas BPBD, Damkar, TNI, Polri dan semua aparatur yang menangani bencana, bisa dibekali operasional memadai”, kata Fajar Rillah Vesky.

Anggota Badan Anggaran DPRD ini meminta, setelah status tanggap darurat ditetapkan, penanganan dampak bencana di seluruh nagari, harus bisa berjalan dengan cepat dan terukur.

“Kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, harus kembali dilakukan. Begitu pula dengan, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana, mesti dimaksimalkan. Jangan sampai terjadi, masyarakat yang kena bencana, malah tambah susah dan menderita”, tegas Fajar Rillah Vesky.[NASA]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *