TANJUNG RAYA, marapipost.com-Kondisi areal persawahan rakyat di Balai Belo, Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, paska bencana Hidrometeorologi akhir tahun 2025 lalu, sudah mulai membaik, pemerintah bergerak cepat melakukan rehabilitasi (Reklamasi) lahan pasca bencana.
Petani Lestri (65 tahun) dijumpai tengah menyiangan padi sawahnya, yang berusia 23 hari, Selasa (23/6/2026), mengaku sangat senang, dan berterimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Agam, telah membantu memperbaiki lahan sawahnya yang tertimbun material banjir. Sebelumnya, sawahnya itu tidak dapat lagi ditanami padi sawah, karena tertimbun material.
Tapi setelah turun tangannya Pemerintah Kabupaten Agam, sawahnya semula tertimbun material pasir dan sebagainya, skarang sudah dapat kembali ditanami padi sawah. Padinya tumbuh subur, menghijau, padah menurut pengakuannya, belum dipupuk.
Semenjak sawah itu direklamasi, baru sakarang dilakukan garapan pertama, ternyata tanaman padi yang ditanam ini tumbuh dengan subur, tutur Lestri. Tidak hanya sekedar daunnya hijau, tapi rumpunnya juga besar.
Tapi padi yang ia tanam adalah jenis padi lokal, tidak varietas unggul, tapi varietas local, nama padinya “Bujang Marantau”. Entah dari mana asal padi tersebut, Lestri mengaku tidak mengetahui secara pasti. “Yah!, itu lah benih padi yang ada pada kami, semoga memberikan hasil lebih baik”, jelas Lestri.
Di Balai Belo pada umumnya, padi yang ditanam masyatakat petani varietas padi Bujang Marantau, tidak dikenal disana varietas padi lain selain Bujang Marantau. Kalau didaerah lain, dikaui berbagi varietas pada yang dikembangkan petani, diantaranya Inpari 31, Inpari 47 WBC, Inpari 32, Sidenuk, atau Pak Tiwi-1.
Mantan Koordinator Penyuluh Pertanian Tanjung Raya, Jaswi, S.P, menjelaskan, khusus di Kecamatan Tanjung Raya, dengan lahan sawah sebelum bencana alam 2025, tercatat luas sawah sekitar 2.500 hektar, karena ditimpa bencana alam, tentu sekarang sudah berkurang dari luas itu.
Yang jelas, semua lahan sawah yang ada di Kecamatan Tanjung Raya ditanam dengan padi varietas local, tidak dikenal adanya Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW). “Iya!, itulah keadaan dan istimewanya”, jelas Jaswir.[lk]











