PALEMBAYAN, Marapi Post.com-Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membersihkan material lumpur dan memperbaiki rumah yang rusak. Bagi masyarakat, terbukanya kembali akses jalan menjadi bagian penting untuk menghidupkan perekonomian dan memulihkan kehidupan sehari-hari.
Hal itu pula yang menjadi perhatian anggota DPRD Kabupaten Agam dari Daerah Pemilihan (Dapil) II, Zulfardi, S.Ag. Melalui dukungan Pokok-pokok Pikiran (Pokir) DPRD dalam penganggaran tahun 2026, peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah terdampak bencana diupayakan secara bertahap.
Salah satu pekerjaan tersebut berupa peningkatan jalan lingkungan menjadi jalan konstruksi beton dengan anggaran sekitar Rp741.114.732. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Fantastis Konstruksi, dengan pengawasan dari CV Garis Lurus Engineering, dan masa pelaksanaan selama 116 hari kalender.
Zulfardi, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang tergabung dalam Fraksi PAN DPRD Agam, mengatakan perhatian terhadap kawasan terdampak bencana perlu terus dilanjutkan.
“Sebagai anggota DPRD dari Dapil II, saya berharap pemerintah memberikan perhatian khusus kepada daerah yang paling terdampak bencana. Pemulihan harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Zulfardi, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, ruas jalan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat. Dari total panjang sekitar 4 kilometer, pada tahun 2026 baru sekitar 1 kilometer yang dapat ditingkatkan dengan konstruksi beton setebal 15 sentimeter, lebar badan jalan dicor beton selebar 3 meter.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 3 kilometer ruas jalan yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Zulfardi berharap pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Agam maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sesuai kewenangan masing-masing, dapat mempertimbangkan kelanjutan peningkatan ruas jalan tersebut.
“Masih sekitar tiga kilometer lagi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Harapannya, pekerjaan dapat dilanjutkan sehingga manfaat jalan ini benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ruas jalan itu menghubungkan Simpang Kampung Aua, Jorong Kampung Tangah Barat, Nagari Salareh Aia Timur, dengan kawasan lainnya.
Di sepanjang kawasan tersebut terdapat fasilitas sosial masyarakat, termasuk lapangan sepak bola yang dimanfaatkan generasi muda untuk berlatih serta Pos Pemuda yang juga difungsikan sebagai Poskamling.
Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga memiliki hamparan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Sawah, ladang dan perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 1.000 hektare.
Karena itu, menurut Zulfardi, keberadaan jalan yang layak bukan sekadar menyangkut kenyamanan mobilitas warga, tetapi juga berkaitan dengan akses masyarakat menuju lahan pertanian dan kelancaran aktivitas ekonomi.
Mengingat Luka Bencana
Di balik pembangunan infrastruktur tersebut, terdapat kenangan pahit yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan masyarakat Palembayan.
Zulfardi kembali mengenang dahsyatnya bencana hidrometeorologi yang menerjang kawasan tersebut pada penghujung 2025. Banjir bandang dan longsor menyebabkan kerusakan besar, menghantam permukiman warga serta meninggalkan duka mendalam.
Jorong Kayu Pasak Selatan, Nagari Salareh Aia, termasuk kawasan yang mengalami dampak berat. Laporan pada masa tanggap darurat menggambarkan material lumpur dan batu besar menerjang permukiman, sementara proses pencarian dan evakuasi korban berlangsung dalam kondisi yang sulit.
“Aduh, ngerinya,” ujar Zulfardi, mengenang kembali suasana ketika bencana melanda. Kini, pembangunan jalan menjadi bagian dari upaya mengembalikan denyut kehidupan masyarakat. Jalan yang semula sulit dilalui perlahan dibenahi, sementara harapan warga untuk mendapatkan akses yang lebih baik masih bergantung pada keberlanjutan pembangunan.
Bagi masyarakat di kawasan tersebut, setiap kilometer jalan yang diperbaiki bukan hanya berarti beton yang terbentang di atas tanah, tetapi juga jalan menuju sawah, kebun, sekolah, fasilitas sosial, serta ruang bagi generasi muda untuk kembali menata masa depan.[lk]











