PESISIR SELATAN, marapipost.com-Membaca tulisan Nasrul Koto Psu, 24 Januari, dengan tulisan, Di Balik Pembawaannya Yang Elegan dan Ketenangan Yang Kerap Dipuji Publik, “Nagita Slavina”.
Tulis Nasrul Koto Psu, Nagita Slavina, menyimpan identitas kultural yang kuat. Istri dari Raffi Ahmad ini bukan sekadar ikon pop-culture tanah air, melainkan seorang perempuan yang memegang erat akar leluhurnya dari Ranah Minang, tepatnya dari Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Bagi banyak orang, tutur Nasrul Koto Psu, Nagita adalah simbol kemewahan “Sultan Andara”. Namun bagi masyarakat Pesisir Selatan, ia adalah “anak nagari” yang pulang ke akar.
Darah Pesisir di Garis Matrilineal.
Tulis Nasru Koto Psu, lagi, darah Minangkabau mengalir deras dalam tubuh Nagita melalui garis sang ibu, Rieta Amilia Beta. Ibunda Rieta diketahui berasal dari Painan, sebuah kota pesisir indah yang dikenal dengan lanskap Bukit Langkisau dan Pantai Carocoknya.
Keterikatan emosional Nagita dengan tanah leluhur ini sempat terekam manis saat ia memboyong Raffi Ahmad berkunjung ke rumah mendiang neneknya, almarhumah Sofina, di Painan Utara, beberapa waktu lalu.
Jauh dari kesan glamor, tutur Nasrul Koto Psu, pada tulisannya, rumah kayu sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang itu menjadi bukti bahwa Nagita tidak pernah melupakan dari mana ia berasal.
“Di sinilah kampung halaman keluarga ibuku”, ujar Nagita dalam salah satu unggahan RANS Entertainment, sebuah pengakuan yang seketika viral dan membanggakan masyarakat Sumatera Barat.
Manifestasi “Limpapeh Rumah Nan Gadang”.
Dalam adat Minangkabau, perempuan memegang posisi istimewa sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, tiang tengah sekaligus penopang utama rumah tangga. Karakter ini seolah terproyeksi nyata dalam kepribadian Nagita sehari-hari.
Publik mengenal Nagita sebagai sosok yang tenang dalam menghadapi badai pemberitaan, namun sangat cerdas dan taktis dalam urusan bisnis. Keberhasilannya membangun imperium RANS Entertainment hingga menjadi raksasa media digital di Indonesia sering disebut sebagai cerminan etos kerja perempuan Minang: ulet, visioner, dan pandai mengelola sumber daya.
Banyak pengamat media dan netizen yang kini menyematkan gelar “Bundo Minang Masa Kini” kepadanya. Ia dianggap berhasil memadukan kelembutan sikap dengan ketajaman berpikir seorang pengusaha sukses.
Painan: Inspirasi Kesederhanaan di Tengah Popularitas
Kota Painan, yang berjarak sekitar 75 kilometer dari Kota Padang, memberikan kontribusi besar terhadap filosofi hidup Nagita yang tetap membumi. Meski hidup di tengah sorotan lampu sorot setiap harinya, Nagita tetap menunjukkan kesahajaan saat berinteraksi dengan warga lokal di kampung halamannya.
Kunjungan-kunjungan Nagita ke Pesisir Selatan bukan sekadar konten media sosial, melainkan bentuk penghormatan terhadap identitas. Kehangatan sambutan warga Painan menunjukkan bahwa bagi mereka, Nagita bukan hanya selebritas papan atas, melainkan representasi keberhasilan orang Minang di perantauan yang tetap menjunjung tinggi prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Penutup: Akar yang Menguatkan
Kisah Nagita Slavina memberikan perspektif baru bahwa kesuksesan modern tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu. Dari pesisir Samudra Hindia di Painan, ia membawa nilai-nilai kebijaksanaan tradisional ke panggung nasional.
Nagita membuktikan bahwa menjadi perempuan Minang di era digital berarti menjadi sosok yang mandiri dan berdaya tanpa kehilangan kelembutan budi pekertinya. Dari Painan untuk Indonesia, ia adalah bukti bahwa akar budaya yang kuat adalah rahasia di balik sayap yang lebar. Kami dari perantau dekat juga bangga. Bupati Pesisir Selatan Indrajoni menjelaskan, Nagita benar-benar orang Painan, Pesisir Selatan. “Iya, benar, Nagita itu orang Painan”, tutur Bupati Pesisir Selatan, Indrajoni.[*/Lukman]
Sumber: Wikipedia
#NagitaSlavina #GigiAhmad #PesisirSelatan #Painan #Minangkabau #SumbarRancak #ExploreSumbar #RansEntertainment #TokohMinang #LimpapehMinang









