AgamSumatera Barat

Yeli Putriani, Viral Ucapannya, “Terima Kasih Al-Azhar”. Ternyata Berasal dari Agam.

×

Yeli Putriani, Viral Ucapannya, “Terima Kasih Al-Azhar”. Ternyata Berasal dari Agam.

Sebarkan artikel ini
AGAM, marapipost.com-Artekel dimuat Nilam Cayo difacebooc menukil seorang putri “HEBAT” dari Kampung Siti Manggopoh bernama Yeli Putriani yang kini viral dengan kalimat, “Terima kasih Al-Azhar”. Ternyata berasal dari Agam.
Selain karena didapuk membacakan kalimat perwakilan wisudawati, dia juga pernah Juara Pertama Tahfiz Qur’an di Mesir tahun 2022.
Ini dia sedikit biografi ananda hebat kita dari kampung Siti Manggopoh.
Di tanah Agam yang sejuk dan penuh pesona alam, lahirlah seorang putri yang namanya kini mengalun hingga ke negeri para ulama.
Yeli Putriani, mahasiswi yang menapaki jalan ilmu dengan kesungguhan, menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya yang menuntun setiap langkahnya.
Sejak belia, ia telah akrab dengan lantunan ayat suci. Suara merdu dari surau kampung menjadi irama masa kecilnya, menumbuhkan tekad untuk menghafal dan menghidupi kalam Allah dengan sepenuh jiwa.
Dalam keheningan malam, ia menyalakan pelita kesabaran, menjadikan setiap ayat sebagai doa dan setiap huruf sebagai cahaya.
Perjalanan panjang membawanya ke Mesir, tanah yang harum oleh sejarah para mufassir dan mujahid ilmu.
Di sana, Yeli Putriani bukan hanya menimba pengetahuan, tetapi juga menorehkan prestasi yang mengangkat marwah bangsa: menyabet juara pertama Tahfiz Qur’an.
Sebuah pencapaian yang bukan sekadar mahkota, melainkan amanah untuk menjaga cahaya Al-Qur’an agar tetap menyinari umat.
Kemenangan itu lahir dari ketulusan hati, doa orang tua, dan kesabaran yang tak pernah surut. Baginya, setiap keberhasilan adalah titipan, bukan untuk bermegah, melainkan untuk terus berkhidmat.
Kini, Yeli Putriani menjadi teladan bagi generasi muda. Ia mengajarkan bahwa prestasi sejati bukan hanya tentang piala, melainkan tentang bagaimana kita menjadikan ilmu sebagai jalan pulang menuju Allah.
Dari Agam hingga Mesir, dari surau kecil hingga panggung dunia, ia tetap menjaga langkah dengan sederhana, penuh syukur, dan berpegang teguh pada marwah.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *