AGAM, marapipost.com-Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, secara resmi mengakhiri status tanggap darurat bencana alam, dan menetapkan peralihan kepada masa transisi menuju pemulihan. Masa transisi menuju pemulihan ini berlaku selama 6 bulan ke depan.
Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan penanganan bencana yang telah dilaksanakan semenjak terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor pada sejumlah wilayah Kabupaten Agam.
Keputusan ini dijelaskan Bupati Agam, Benni Warlis, pada rapat evaluasi pelaksanaan penanganan tanggap darurat bencana alam Senin (5/1/2025) di Aula Kantor Bupati Agam di Padang Baru Jl. Sudirman Nomor 1 Lubuk Basung.
Memimpin rapat, Bupati Benni Warlis didampingi Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Muhammad Lutfi AR, kepala OPD, camat wilayah terdampak, dan unsur terkait lainnya.
Rapat membahas perkembangan terkini terhadap penanganan bencana, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah strategis dalam peralihan dari masa tanggap darurat menuju masa transisi pemulihan.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menjelaskan, tercatat jumlah korban meninggal dunia bencana tercatat 165 orang, tersebar pada beberapa kecamatan. Kecamatan Malalak 16 orang, Matur 1 orang, Tanjung Raya 10 orang, Palupuah 1 orang, Palembayan 136 orang, dan Ampek Nagari 1 orang.
Tapi, masih terdapat 37 orang dinyatakan hilang. Total korban meninggal dunia, 23 orang belum teridentifikasi, terdiri 18 jenazah utuh dan 5 bagian tubuh. Rahmat Lasmono juga mengungkapkan, jumlah warga terdampak, dan mengungsi, mencapai 3.246 jiwa. Para pengungsi saat ini menempati berbagai lokasi, di masjid, musala, dan rumah sanak keluarga.
Korban masih menjalani perawatan medis hingga kini, tercatat 3 orang, dirawat di RSUD setempat. Kerusakan dan kerugian, dampak bencana di Kabupaten Agam diperkirakan mencapai lebih dari Rp6,5 triliun. Sebanyak 1.729 rumah dilaporkan rusak berat dan hanyut akibat bencana.
Data ini masih berpotensi bertambah, mengingat masih terdapat 14 rumah yang berada dalam kondisi terancam longsor. Rumah-rumah yang mengalami kerusakan saat ini tengah menjalani proses verifikasi dan validasi tim lapangan.
Selain permukiman, sektor pertanian juga mengalami kerugian signifikan, taksiran kerugian, mencapai lebih dari Rp123 miliar. Kerusakan lahan pertanian turut berdampak perekonomian masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Penanganan pascabencana, Pemerintah Kabupaten Agam merencanakan pembangunan hunian sementara (huntara) pada 5 kecamatan terdampak. Di Kecamatan Palembayan, huntara dibangun pada 3 titik; Lapangan Bola SD Negeri 05 Kayu Pasak, Padang Gantiang, dan Lapangan Jajaran Tamtaman. Di Kecamatan IV Koto, huntara direncanakan berlokasi di Ujuang Bancah, Balingka.
Di Kecamatan Malalak, huntara akan dibangun di lapangan Lambeh, Jorong Bukik Malanca. Di Kecamatan Palupuah, pembangunan huntara direncanakan pada 2 titik, di Lapangan Pakan Salasa Jorong Guntuang, dan Bateh Gadang.
Di Kecamatan Tanjung Raya, huntara akan dibangun di Jorong Bancah, Nagari Maninjau, dan di kawasan objek wisata Linggai. Normalisasi sungai dan pembersihan material banjir bandang, BPBD Agam menyebutkan membutuhkan 63 unit alat berat ekskavator. Alat berat difokuskan pada 4 kecamatan, Palembayan, Palupuah, Malalak, dan Tanjung Raya.
Bantuan dan donasi yang masuk ke Kabupaten Agam, hingga kini, total donasi yang diterima mencapai lebih dari Rp2,736 miliar. Realisasi belanja mencapai lebih dari Rp800 juta, dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat terdampak, seperti beras, sarden, dan minyak goreng. Dana donasi sebesar Rp1,877 miliar telah disepakati untuk dikelola bersama BAZNAS.[lk]











