LUBUK BASUNG, marapipost.com-Shalat Idul Fitri, 1 Syawal 1446, bertepatan dengan Senin 31 Maret 2025, di Monggong, Surabayo, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, penuh sesak oleh jamaah yang menunaikan Shalat Hari Raya Idul Fitri. Surau itu surau lama, bernama Sursu Balerong, tempat mengaji generasi penerus terkenal semenjak dahulunya.
Pengurus mengundang Ustadz Zaki untuk jadi khatib, sekali gus juga sebagai imam shalat Idul Fitri. Yang membuat air mata berlinang, ketika sang khatib, menyebut, tahun depan belum tentu kita dapat melaksanakan ibadah bulan puasa, karena kita sudah tidak ada lagi. “Bersyukur kita dapat melaksanakan ibadaha dibulan Suci Ramadhan 1446 H/2025 in, puasa depana Ramadhan 1447 H/2026 M, belum tentu kita ketemu, sebab usia itu Allah SWT yang menentukan.
Khotbah khatib memaprkan usia tersebut, banyak diantara jamaah yang meneteskan mata, seraya mengusap wajah. Hanyut mendengar khotbah khatib shalat Idul Fitri 1446 H/2025 M yang menyinggung sola usia (Umur). Memang terbukti seperti, tidak lama berselang usai lebaran, maut sudah datang menjemput.
Sangat ditakuti nanti pada hari kiamat, di padang mahsar, manusia (umat) berlian kian kemari, bagaikan belalang terbang, mencari perlindungan, karena tidak tahan panasnya sengat matahari. Pada hari kiamat nanti manusia di padang mahsyar belarian kian kemari seperti belalang. Berlari mencari perlindungan, karena tidak tahan panas mata hari yang dialami.
Umat bertemu dengan Nabi Adam Alahiwasalam. Ketika umat minta perlindungan, Nabi Adam Alaihiwassalam, mengaku tidak dapat memberi perlindungan. Nabi Adam menyarankan, agar pergi ke Nabi Harun, tapi Nabi Harun juga mengucapkan hal yang sama.
Banyak nabi nabi yang ditemui, tapi tidak ada yang dapat memberi perlindungan. Barulah ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dapat pertolongan. Nabi Muhammad SAW berdo’a kepada Allah SWT, do’a Nabi Muhmmad dikabulkan, maka umat Nabi Muhammad SAW dapat perlindungan.
Juga dijelaskan khatib, manfaat hari raya. Hari raya itu untuk meningkatkan keimanan kita. Setelah usai shalat idul fitri kita seharusnya semakin meningkatkan ketakwaan. Ingat pengorban seorang ibu terhadap anaknya. Ketika dalam kandungan, dibawa kesana kemari untuk berusaha. Ketika melahirkan, sang ibu menyabung nyawa antara hidup dengan mati.
Setelah lahir kedunia, mengasuh dan menyusukan. Menyusukan, sampai usia dua tahun. Usia dua tahun sambil mdengasuh mendidik anak, agar kelak jadi orang yang berhasil. Pada usia masuk sekolah, anak diantar kesekolah, jelang ia pandai datang sendiri. Pada pokoknya banyak pengorbanan seorang ibu, sementara sang ayah mencari nafkah tiap hari, rela korbankan apa saja demi anak.
Anak tamat sekolah, sudah besar, dan sudah dapat pekerjaan, adakalanya anak lupa kepada orang tuanya, orang tuanya dibiarkan begitu saja. Bila ayah kaya, anak jadi raja. Bila anak kaya, ingat lah kepada org tua, jangan dibiarkan kedua orang tua sengsara. Bakti kepada kedua orang tua itu tidak hanya ketika hidup, tapi juga orang tua yang sudah tiada lagi, do’akan beliau, sedekahkan, dan pahalanya dihadiahkan kepada beliau.
Kemudian, antar sesama umat, saling memaafkan, jangan hanya satu kesalahan ini tidak diterima ibadah kita, mohon keikhlasan. Setelah radhan ini keimanan jangan berkurang, tetapi sebaliknya, harus semakin kuat, sebab belum tentu ramadhan akan datang kita temui, tdk ada jaminan, jelas Unstadz Zaki. Surau kecil ini juga berhasil mengumpulkan infak sekitar Rp1.350.000.[lk]