AgamSumatera Barat

Sawah Tidak Dapat Air Bendungan Karena Bobol, Ditanami Petani dengan Jagung

×

Sawah Tidak Dapat Air Bendungan Karena Bobol, Ditanami Petani dengan Jagung

Sebarkan artikel ini

PALEMBAYAN, Marapi Post.com-Masyarakat petani di Daerah Irigasi (D.I) Gumarang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, paska bencana Hidrologi akhir tahun 2025, tidak mau tinggal diam, ia terus berupaya, agar perekonomian mereka tetap jalan untuk membiayai hidup keluarga, lahan sawah yang tidak dapat air ditanami jagung.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Palembayan, Maradona, S.P, ketika dihubungi Senin (28/9/2026) menjelaskan, dari 970 hektar sawah yang tidak dapasokan air di Jorong Gumarang, sekitar 350 hektare diantaranya ditanami komoditi jagung.

Sebenarnya, tutur Maradona yang juga Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Agam, budidaya jagung besar-besaran di Kecamatan Palembayan, sudah berlangsung semenjak lama, tapi di lahan kering (Tegalan).

Menanam jagung di lahan sawah, masyarakat petani di Nagari Tigo Koto Silungkang sudah semenjak lama, menanam di lhanan sawah, khususnya di Jorong Gumarang, setelah paska bencana alam akhir tahun 2025. Menanam jagung paska bencana di Nagari Tigo Koto Silungkang, bibit dibantu pemerintah.

Jenis bibit bantuan jagung varietas betras dan tander. Sudah dua kali diberi bantuan, bulan Desember 2025 sebanyak 3,5 ton, dan pada bulan Agustus 2026 diberi pula bantuan bibit jagung sebanyak 4,5 ton.

Untuk saat ini, mata air tumbuh kembali, sekitar 620 hektare kembali dapat diolah petani menjadi sawah kembali, memanfaatkan sumber air dari mata air yang tumbuh kembali, termasuk air irigasi yang bersumber dari irigasi yang telah diperbaiki, tutur Maradona.

Produktivitas komoditi jagung untuk saat ini cukup tinggi, mencapai 3,5 ton per hektar, dengan harga jual melalui pedagang pengumpul yang datang dari Payakumbuh Rp6.100 per kilogram, dalam kondisi kering.

Dengan demikian, masyarakat petani jagung memperoleh penghasilan kotor Rp21.350.000, diakui berbeda pendapatan dibandingkan dengan usaha tani padi sawah. Kalau menanam padi di sawah dengan produktivitas 4 ton per hektar menerima pendapatan kotor Rp32.000.000 kotor.

Wali Nagari Tigo Koto Silungkang Doni Cendra, berharap, Daerah Irigasi (D.I) yang rusak itu sesegeranya dipulihkan pemerintah, sebab padi sawah sebagai sumber utama perekonomian masyarakat di Nagari Tigo Koto Silungkang.

Walau sebagian sawah yang belum dapat air irigasi, disebabkan D.I Gumarang mengalami kerusakan karena bencana Hidrometeriologi, dapat juga dimanfaatkan untuk budi daya jagung, namun masyarakat tetap berharp irigasi yang rusak segera dipulihkan, terang Wali Nagari Tigo Koto Silungkang Doni Cendra.

Melalui musrenbang, sudah diusul, agar pemerintah segera memulihkan kembali atau perbaikan irigasi tersebut, malah sudah sering disampaikan pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) nagari dan kecamatan.

Pemda Kabupaten Agam, telah memperbaiki irigasi tersier pada tiga titik, selain juga telah dilakukan rehabilitasi lahan sawah dan dam parit pada 2026, katanya Doni Cendra. Juga dijelaskan Wali Nagari, luas sawah 970 hektar itu digarap oleh 1.300 petani penggarap, didukung 63 kelompok tani, dan 12 Kelompok Tani Wanita (KWT), tutur Doni Cendra.[lk]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *