Oleh Lukman
KABUPATEN AGAM-marapipost.com-Tiada hari Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tanpa kampanye “Sawah Pokok Murah”. Kampanye itu terus bergulir sebagai upaya untuk mengejar peningkatan produksi pangan, terutama padi dan jagung.
Program itu untuk mendukung program ketahanan pangan. Tujuannya Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, untuk mendukung program Pemerintah RI Presiden Prabowo meningkatkan prfoduksi pangan. Makanya Pemda Kabupaten dengan gencar berkampanye, metode “Sawah Pokok Murah”. Katanya Sawah Pokok Murah itu hebat. Sebenarnya apa sawah pokok murah itu?.
Setiap Nagari (Desa diluar Sumatera Barat), diperintahkan membuat Sekolah Lapang (SL) Sawah Pokok Murah. Sawah pokok murah itu dibiayai dengan anggaran nagari. Beberapa wali nagari yang ditanya, tidak mengerti, apa sawah pokok murah itu. “Kami hanya menyediakan anggaran dari dana anggaran nagri pak, teknisnya orang pertanian lah yang tahu.
Penulis pernah menelusurui memnelusuri aktivitas sekolah lapang sawah pokok murah, dan dan bertanya kepada petani, kebetulan juga ikut dalam kegiatan SL sawah pokok murah. Hambar jawaban petani itu ketika ditanya tentang sawah pokok murah itu.
“Kalau masih ada dananya dari pemerintah, pekerjaan sawah pokok murah ini, kedepannya kami lanjutkan, tapi kalau tidak ada, tanam berikutnya saya tidak ikut lagi pak”, tutur seorang petani.
Kenapa?, Tanya penulis lagi. Dijawab petani, pekerjaannya ribet, menyusahkan, menukuk (Menambah) pekerjaan. Biaya tanam, biasanya Rp600 ribu, dengan sawah pokok murah naik jadi Rp1.300.000, tutur petani. Tapi ada juga petani lain yang bilang, ia berhasil dalam melaksanakan metode sawah pokok murah, tumbuh padinya bagus, berapa kenaikan produksi padi petani tersebut, belum ada penjelasan.
Belum ada data resmi dari pihak berkopeten, berapa persen kenaikan produksi padi sawah. Yang jelas informasi yang didapat dari medsos, sawah pokok murah banyak yang gagal, sementara pekerjaan bertambah, cari dan tebar jerami.
Karena itu petani tidak berselera lagi untuk melanjutkan metode sawah pokok murah ini, bila tidak ada uangnya. Alasan petani, pekerjaan bertambah, ribet, repot, dan makan waktu lebih panjang untuk bekerja.
Sebagian petani bilang, metode sawah pokok murah ini tidak lagi memakai pupuk, buat saja gludan (Pretak) disawah sesuai kuran, tanpa olah tanah, kemudian ditabur jerami, tidak pakai pupuk kimia (Anorganik). Hanya buat parit dengan tujuan untuk membuat petak sesuai dengan ukuran yang ditentukan, kemudian digenangi air.
Gludan (Petak sawah) dialas dengan jerami padi setebal 5 cm minimal, lalu ditanami. Apa benar begitu teknisnya atau tidak, penulis tidak mengetahui secara pasti, itu adalah hasil omom-omon dengan petani.
Kalau benar, sawah pokok murah tidak perlu pupuk buatan lagi lagi, Negara makin beruntung, petani tidak perlu memikirkan uang untuk beli pupuk, yang sulit dicari masyarakat, cukup hanya tabur jerami. Tapi untuk mencari jerami yang akan ditabur setebal 5 cm itu, juga sulit, dari mana jerami padi didapat, apabila semua petani sudah melaksanakan metode tersebut, kalau sudah jadi program pemerintah.
Nah!, sekarang maari sama-sama kita kaji, para ahli bilang, tanaman padi sawah, secara garis besar butuh unsure Nitrogen, Pospor, dan Kalium. Unsur ini ada yang disebutkan ini yang berasal dari pupuk anorganik (Pupuk Buatan) dan ada yang berasal dari pupuk organic (Pupuk pupuk kompos).
Sepanjang penulis ketahui, tanpa pupuk anorganik, tanaman padi tidak akan dapat tumbuh dengan sempurna, sebab jerami padi tidak dapat menyediakan unsur yang dibutuhkan tanaman padi dengan cukup, kecuali diberikan dalam jumlah besar.
Dalam 100 kg pupuk Urea terdapat 46 kg N (Nitrogen), kebutuhan padi sawah 90 kg/hektar. Artinya dalam satu hektar dibutuhkan pupuk urea berkisar 200 kg/ha (4 karung Urea) Dalam satu karung pupuk Urea biasanya beratnya 50 kg. Klau petani hanya memakai jerami segar, dari mana kebutuhan nitrogen diperdapat tanaman padi dapat dipenuhi. Apalagi unsur nitrogen diperdapat dari jerami padi, apabila jerami sudah lapuk.
Selain itu kandungan unsure Nitrogen dalam jerami padi sangat rendah, hanya 0,67%. Artinya dalam 100 kg jerami, hanya diperdapat kandung 0,67 kg Nitrogen, sementara untuk tanaman padi butuh 90 kg nitrogen/hektar. Sayangnya para ahli tidak mejelaskan dalam data apakah jerami padi yang mengandung Nitrogen 0,67 kg itu dalam bentuk jerami baru panen (basah) atau jerami padi kering.
Pupuk TSP (SP-36) dibutuhkan sebanyak 100 kg/ha atau 2 karung. Satu karung (Zak) beratnya 50 Kg, dengan kandungan unsure hara 36%, sementara kandaungan unsure haranya pada jerami padi hanya 0,05-0,11%, sedang kebutuhan unsure posfor (P) untuk tanaman padi sawah 36 kg/ha.
KCl (atau pupuk kalium) dibutuhkan untuk tanaman padi 50 kg/ha, sementara kandungan unsure K dalam jerami padi hanya 2,0-2,1%. Apakah tanaman padi sawah dapat tumbuh dengan sempurna?. Coba saja analisa, pergunakan saja cara berpikir secara logika.
Kesimpulannya, bila hanya menghandalkan jerami padi dalam segar tanpa dikompos, ditabur (Diseraikan) diatas petakan tanah sawah, diharapkan dapat meningkatkan produksi gabah padi bernas, dirasa adalah sia-sia.
Mestinya Pemerintah Daerah Kabupaten Agam, janganlah menggunkan ilmu katak (Loncek), begitu teringat langsung melompat. Adakan dulu kajian, pengujian, setelah itu, kalau berhasil barulah diterapkan dilapangan dalam bentuk sekolah lapang (SL).[*]











